Harga Emas Antam Melonjak Hari Ini: Simak Penyebabnya dan Dampak Geopolitik Global yang Mengguncang Pasar Logam Mulia
emas-pixabay-
Harga Emas Antam Melonjak Hari Ini: Simak Penyebabnya dan Dampak Geopolitik Global yang Mengguncang Pasar Logam Mulia
Dunia investasi logam mulia kembali diguncang. Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) atau yang lebih dikenal dengan sebutan emas Antam, mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan hari ini, Selasa (6/1/2026). Lonjakan harga ini bukanlah kejadian biasa—melainkan cerminan dari dinamika geopolitik global yang tengah memanas dan menjadi pemicu utama aksi pelarian investor ke aset aman (safe haven asset), termasuk emas.
Harga Emas Antam Naik Rp34.000 per Gram
Berdasarkan data resmi dari Logam Mulia, harga emas Antam hari ini menyentuh angka Rp2.549.000 per gram, naik Rp34.000 dibandingkan posisi penutupan perdagangan Senin (5/1/2026), yang berada di level Rp2.515.000 per gram. Tak hanya di sisi penjualan, harga buyback atau harga pembelian kembali oleh Antam juga mencatat peningkatan serupa, yakni Rp2.405.000 per gram, meningkat Rp34.000 dari hari sebelumnya.
Lonjakan ini bukanlah fenomena lokal semata. Ia merupakan cerminan langsung dari pergerakan harga emas dunia yang mengalami kenaikan tajam dalam 24 jam terakhir.
Emas Dunia Tembus Rekor Mingguan
Di pasar komoditas global, harga emas spot ditutup pada level US$4.441,1 per troy ons pada perdagangan Senin waktu New York. Angka ini melonjak 2,52% dalam sehari dan menjadi pencapaian tertinggi sepanjang pekan ini. Lonjakan tersebut disulut oleh berbagai faktor makroekonomi dan—yang paling dominan—ketegangan geopolitik yang kian membara di berbagai belahan dunia.
Geopolitik Memanas: Langkah Kontroversial Trump Guncang Pasar Global
Salah satu pemicu utama gejolak harga emas kali ini adalah langkah kontroversial yang diambil oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kembali aktif di panggung politik internasional. Pada akhir pekan lalu, pemerintahan Trump dikabarkan telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, yang selama ini menjadi sosok kunci dalam konflik politik dan ekonomi di Amerika Latin.
Dalam pernyataan yang dikutip oleh Bloomberg News, Trump menyatakan niat AS untuk “mengambil alih” pemerintahan Venezuela.
“Kami membutuhkan akses total. Kami membutuhkan akses terhadap minyak dan lain-lain yang bisa membuat kami membangun kembali,” tegas Trump.
Namun, langkah agresif ini tak berhenti di Venezuela. Trump juga kembali mengumbar ambisi geopolitiknya terhadap Greenland, wilayah otonom yang secara administratif masih bagian dari Denmark. Ia menuding bahwa Greenland kini dipenuhi kapal-kapal milik Rusia dan Tiongkok—sesuatu yang menurutnya mengancam keamanan nasional AS.
“Greenland dipenuhi dengan kapal-kapal Rusia dan China. Kami membutuhkan Greenland dalam kacamata keamanan nasional, dan Denmark tidak bisa melakukan itu, saya bisa pastikan,” ujarnya.
Pernyataan itu langsung memicu kecaman keras dari pemerintah Denmark. Perdana Menteri Mette Frederiksen menegaskan bahwa Amerika Serikat sama sekali tidak memiliki hak untuk mengklaim atau menganeksasi wilayah Denmark.
“Ini bisa mengancam berakhirnya aliansi NATO,” tegas Frederiksen dalam konferensi pers mendadak di Kopenhagen, seperti dilansir Bloomberg News.
Emas Sebagai Pelindung Nilai di Tengah Ketidakpastian
Di tengah ketegangan yang bisa memicu konflik bersenjata atau bahkan resesi global, emas kembali menunjukkan perannya sebagai safe haven asset. Logam mulia ini dikenal mampu mempertahankan atau bahkan meningkatkan nilainya ketika pasar saham, obligasi, dan aset berisiko lainnya goyah.
Investor institusional maupun ritel—baik di Amerika, Eropa, hingga Asia—kini mulai mengalihkan portofolionya ke emas. Permintaan terhadap emas batangan, logam mulia, hingga ETF berbasis emas pun meningkat drastis dalam beberapa hari terakhir.
Di Indonesia, lonjakan minat masyarakat terhadap emas Antam juga terlihat jelas. Data internal Logam Mulia menunjukkan peningkatan transaksi fisik di gerai-gerai Antam di Jabodetabek, Surabaya, Bandung, dan kota besar lainnya. Banyak warga memilih membeli emas sebagai bentuk perlindungan nilai jangka panjang, terutama di tengah kekhawatiran akan inflasi dan ketidakstabilan politik global.
Apa yang Harus Dilakukan Investor?
Bagi investor, fluktuasi harga emas seperti ini sebaiknya disikapi dengan kepala dingin. Meski harga sedang naik, membeli emas bukan hanya soal keuntungan jangka pendek, melainkan strategi lindung nilai jangka panjang. Para analis keuangan menyarankan agar pembelian emas dilakukan secara bertahap (dollar-cost averaging) untuk meminimalkan risiko masuk pasar di puncak harga.
Selain itu, penting juga untuk memperhatikan biaya transaksi, termasuk selisih antara harga jual dan buyback. Saat ini, spread tersebut masih berada di kisaran Rp144.000 per gram, yang relatif stabil dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.