Masriadi, Tukang Kayu yang Jadi Polisi Gadungan, Hamili 5 Janda dan Seorang Bidan di Luwu – Kini Diringkus Polisi

Masriadi, Tukang Kayu yang Jadi Polisi Gadungan, Hamili 5 Janda dan Seorang Bidan di Luwu – Kini Diringkus Polisi

Masriadi-Instagram-

Masriadi, Tukang Kayu yang Jadi Polisi Gadungan, Hamili 5 Janda dan Seorang Bidan di Luwu – Kini Diringkus Polisi

Dunia maya tengah digemparkan oleh kasus penipuan berkedok profesi yang mengejutkan. Seorang pria bernama Masriadi, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang kayu, kini menjadi buah bibir setelah kedoknya sebagai “polisi gadungan” terbongkar. Lebih mengejutkan lagi, aksi tipu-tipunya tak hanya berhenti pada penipuan identitas—ia dikabarkan telah menghamili lima janda dan seorang bidan di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.



Kasus ini mencuat ke permukaan setelah unggahan viral di akun Instagram @tante.rempong.official pada Sabtu, 10 Januari 2026. Dalam unggahan tersebut, terungkap bahwa Masriadi—yang akrab disapa Adi—mengenakan seragam polisi lengkap dengan pangkat Inspektur Polisi Dua (IPDA) untuk meyakinkan para korbannya. Padahal, ia sama sekali tidak memiliki kaitan dengan institusi kepolisian.

Modus Licik Berkedok Wibawa Aparat
Dengan memanfaatkan simbol otoritas yang melekat pada seragam polisi, Masriadi berhasil membangun citra diri yang menipu. Ia mendekati perempuan-perempuan rentan, terutama janda, dengan janji perlindungan, kepastian, bahkan cinta. Tak sedikit dari mereka yang terpesona oleh sosok “perwira muda” yang tampak gagah dan berwibawa.

Namun, di balik topeng itu, Adi hanyalah seorang tukang kayu biasa yang memanfaatkan ketidaktahuan dan kerentanan emosional korban. Menurut informasi yang beredar, ia menggunakan seragam polisi palsu yang diduga dibeli atau dibuat sendiri, lengkap dengan atribut yang menyerupai aslinya.


Enam Korban Hamil, Termasuk Seorang Tenaga Medis Profesional
Fakta paling mengejutkan dari kasus ini adalah jumlah korban yang terlibat secara intim dengannya. Lima janda dan seorang bidan—profesi yang sangat dihormati di masyarakat pedesaan—dikabarkan hamil akibat hubungan dengan Masriadi. Hal ini bukan hanya menodai nama baik institusi kepolisian, tetapi juga menimbulkan luka mendalam bagi para korban dan keluarga mereka.

Salah satu korban, seorang bidan muda, menjadi titik balik pengungkapan kasus ini. Adik sang bidan, yang merasa geram atas perlakuan Masriadi terhadap kakaknya, akhirnya melapor ke pihak berwajib. Laporan tersebut menjadi dasar penangkapan tersangka.

Ditangkap dan Dibawa ke Polsek Masamba
Tak butuh waktu lama bagi aparat kepolisian setempat untuk menangkap Masriadi. Ia kini telah diamankan di Polsek Masamba untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Meski belum ada rincian resmi mengenai pasal yang disangkakan, dugaan kuat ia akan dijerat dengan Undang-Undang tentang Penipuan dan Pemalsuan Identitas, serta kemungkinan pelanggaran moral dan pencabulan.

“Kami sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut. Kasus ini cukup sensitif karena menyangkut kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum,” ujar sumber internal kepolisian yang enggan disebutkan namanya.

Viral di Media Sosial, Warganet Geram dan Tak Percaya
Begitu kabar ini menyebar, media sosial langsung dipenuhi reaksi beragam dari warganet. Banyak yang geram, namun tak sedikit pula yang sulit memercayai kisah ini karena terasa seperti skenario sinetron.

Akun @septi_arisanti menulis, “Tukang kayu jago kalau pura-pura.” Sementara akun @eyooonggg berkomentar singkat namun menyiratkan keheranan: “Temanku satu.”

Ada pula yang mempertanyakan logika di balik kasus ini. Akun @nadhirasyidghozialfathir menulis, “Kayaknya banyak banget sih berita begini, ini beneran nyata? Kayak gak masuk akal gitu, masa sih sesilau itu sama seragam Polisi sampai mau diapa-apain.”

Sedangkan akun @n_pria menyampaikan keprihatinan mendalam: “Seorang bidan juga kena dihamili astagfirullah.”

Bahaya Penyalahgunaan Simbol Otoritas
Kasus Masriadi bukan yang pertama kali terjadi di Indonesia. Sejumlah kasus serupa—di mana pelaku memanfaatkan seragam instansi resmi untuk menipu—telah terjadi di berbagai daerah. Namun, yang membedakan kasus ini adalah skala dampaknya: enam perempuan hamil, reputasi profesi medis dan kepolisian tercoreng, serta trauma psikologis yang mungkin berkepanjangan.

Psikolog sosial dari Universitas Hasanuddin, Dr. Lina Marpaung, mengatakan bahwa fenomena ini mencerminkan kerentanan sosial terhadap simbol otoritas. “Masyarakat, terutama di daerah, masih sangat percaya pada atribut formal seperti seragam. Ini celah yang dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab,” jelasnya.

TAG:
Sumber:

Berita Lainnya