Misteri Akun Threads Smanunggu: Penjelajah Waktu dari Tahun 1035 yang Terjebak di Era 2006?

Misteri Akun Threads Smanunggu: Penjelajah Waktu dari Tahun 1035 yang Terjebak di Era 2006?

Cara Praktis Download Story Instagram Tanpa Harus Install Aplikasi Tambahan!-Pramod Tiwari/pexels-

Misteri Akun Threads Smanunggu: Penjelajah Waktu dari Tahun 1035 yang Terjebak di Era 2006?

Dunia media sosial kembali digemparkan oleh kemunculan akun misterius bernama @Smanunggu di platform Threads. Akun yang baru dibuat pada Sabtu, 11 Januari 2026, ini langsung menjadi sorotan publik setelah memposting narasi fiksi ilmiah yang begitu detail dan penuh nuansa mistis—mengaku sebagai seorang penjelajah waktu dari tahun 1035 yang terlempar ke masa 2006, dan kini terjebak di tahun 2026.



Postingan tersebut, yang dipublikasikan dalam bentuk thread panjang di komunitas bertema “Time Traveler”, bukan hanya menarik perhatian ribuan pengguna, tetapi juga memicu perdebatan sengit di jagat maya: apakah ini sekadar karya fiksi imajinatif, atau ada unsur kebenaran di baliknya?

“Aku Terjebak di Tahun 2026, Asalku dari Tahun 1035”
Dalam unggahan pertamanya yang viral, akun @Smanunggu menulis dengan nada putus asa:

“Aku terjebak di tahun 2026, padahal asalku dari tahun 1035. Kalian boleh percaya atau nggak, tapi aku nulis ini karena udah bener-bener buntu. Nggak tau lagi gimana caranya pulang dan di mana kedua temanku berada.”


Pernyataan itu sontak mengundang rasa penasaran. Siapa sebenarnya Manunggu—nama yang diklaim sebagai identitas asli sang pemilik akun? Dari mana asalnya? Dan bagaimana mungkin seseorang bisa “terlempar” lebih dari seribu tahun ke masa depan?

Menurut narasi yang ia tulis, Manunggu berasal dari wilayah di bawah Keraton Sarpasari, sebuah kerajaan fiktif yang dipimpin oleh Paduka Sri Mandhukara V. Ia mengaku sedang menjalankan misi penting bersama dua sahabatnya, Gaba dan Suwari, untuk mencari benda keramat bernama Pasak Gaib—sebuah artefak legendaris yang konon mampu mengatur keseimbangan antar dimensi.

Namun, saat melakukan ritual di Alas Pawitra, sebuah hutan sakral di kaki Gunung Penanggungan (yang secara geografis terletak di perbatasan Kabupaten Mojokerto dan Pasuruan, Jawa Timur), terjadi insiden tak terduga. Sebuah ledakan energi misterius melemparkan ketiganya keluar dari garis waktu aslinya.

Terlempar ke Kebun Salak, Ditemukan oleh Warga Lokal
Menurut kisahnya, Manunggu mendarat di sebuah kebun salak di daerah pegunungan—kemungkinan besar masih di sekitar kawasan Gunung Penanggungan—pada tahun 2006. Di sanalah ia ditemukan oleh seorang warga paruh baya bernama Wandi, yang awalnya mengira Manunggu adalah pendaki tersesat.

“Aku pakai pakaian aneh, bicara dengan logat yang tak lazim, dan tak mengenal teknologi. Wandi kasihan, lalu membawaku ke rumahnya,” tulis Manunggu dalam salah satu bagiannya.

Sejak itu, ia berusaha beradaptasi dengan dunia modern—belajar bahasa, teknologi, bahkan budaya populer. Namun, selama 20 tahun, ia tak pernah berhenti mencari cara kembali ke masanya… atau setidaknya menemukan Gaba dan Suwari, yang belum diketahui nasibnya.

Viral dalam Semalam, Ribuan Netizen Terpesona
Hingga Selasa, 13 Januari 2026, unggahan @Smanunggu telah mendapatkan lebih dari 6.000 likes dan ribuan komentar. Banyak netizen menyebut narasi ini sebagai “karya fiksi terbaik tahun ini”, sementara yang lain justru mulai menelusuri petunjuk-petunjuk yang mungkin nyata.

Beberapa pengguna mencoba melacak lokasi Alas Pawitra, mencari jejak Keraton Sarpasari dalam arsip sejarah Jawa, bahkan menelusuri nama “Wandi” di desa-desa sekitar Gunung Penanggungan. Meski belum ada bukti konkret, daya tarik cerita ini terletak pada kombinasi unik antara fiksi ilmiah, mitologi Jawa, dan realisme lokal.

“Ini kayak Dark versi Jawa,” komentar seorang pengguna Twitter. “Tapi dibumbui dengan nuansa spiritual dan keraton yang bikin merinding.”

Antara Fiksi, Seni Narasi, dan Psikologi Sosial
Pakar media digital dari Universitas Indonesia, Dr. Lina Marwati, menilai fenomena @Smanunggu sebagai contoh sempurna dari storytelling transmedia di era digital. “Akun ini tidak hanya menulis cerita—ia membangun dunia. Ada geografi, sejarah alternatif, karakter, konflik, dan emosi. Itu yang membuat audiens terlibat secara emosional,” ujarnya.

Sementara itu, psikolog sosial Dr. Rendra Pratama melihat fenomena ini sebagai cerminan kecemasan kolektif masyarakat modern terhadap waktu, identitas, dan keterasingan. “Di tengah percepatan teknologi dan ketidakpastian global, banyak orang merasa ‘terlempar’ dari realitas mereka sendiri. Cerita seperti ini menjadi metafora yang kuat,” katanya.

TAG:
Sumber:

Berita Lainnya