Unggahan Lama Roby Tremonti Kembali Viral: Amarah, Tuduhan, dan Bayang-Bayang Broken Strings yang Tak Kunjung Padam

Unggahan Lama Roby Tremonti Kembali Viral: Amarah, Tuduhan, dan Bayang-Bayang Broken Strings yang Tak Kunjung Padam

Robby-Instagram-

Unggahan Lama Roby Tremonti Kembali Viral: Amarah, Tuduhan, dan Bayang-Bayang “Broken Strings” yang Tak Kunjung Padam

Nama Roby Tremonti kembali menjadi sorotan publik setelah unggahan lamanya di media sosial tiba-tiba viral. Postingan tersebut, yang awalnya muncul tak lama setelah peluncuran buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans, kini dibagikan ulang oleh ribuan pengguna Twitter—dan memicu gelombang diskusi sengit tentang batas antara privasi, trauma korban, dan hak untuk membela diri di ruang digital.



Buku Broken Strings, yang dirilis beberapa waktu lalu, memang telah mengguncang dunia hiburan Tanah Air. Di dalamnya, Aurelie Moeremans secara terbuka mengungkap pengalaman traumatisnya sebagai korban child grooming—sebuah bentuk eksploitasi psikologis terhadap anak di bawah umur yang kerap kali luput dari perhatian hukum. Meski tidak menyebut nama secara eksplisit, banyak pembaca meyakini bahwa salah satu tokoh sentral dalam narasi tersebut adalah mantan suaminya, Roby Tremonti.

Namun, yang menarik perhatian kali ini bukan hanya isi buku itu sendiri, melainkan reaksi emosional Roby yang kini kembali mencuat ke permukaan berkat tangkapan layar unggahan Instagram-nya yang dibagikan oleh akun @hwxuxies pada 11 Januari 2026.

“Orang Stres!”: Reaksi Emosional yang Jadi Bahan Perbincangan
Dalam cuitannya, akun tersebut menulis dengan nada sindiran:


“Orang stres! Postingan IG da isi SG 'dia' waktu awal-awal buku Broken Strings terbit. Ternyata dari awal udah kepanasan itu ya? Katanya sih merasa difitnah tapi klarif dan kepanasan mulu sampai sekarang? Plek ketiplek banget sifatnya sama yang di buku wkwkwk.”

Tangkapan layar yang dilampirkan memperlihatkan unggahan Roby Tremonti yang penuh amarah. Ia bahkan secara eksplisit menyebut judul Broken Strings dalam keterangan fotonya, seolah merasa tersudut oleh narasi yang disampaikan Aurelie.

Roby menulis bahwa momen rilis buku tersebut bertepatan dengan meninggalnya seorang mahasiswa bernama Timothy—yang sebelumnya viral karena menjadi korban perundungan (bullying) hingga mengakhiri hidupnya. Menurutnya, korelasi waktu itu sengaja dimanfaatkan untuk membangun opini publik yang merugikan dirinya.

“Dengan momen terbitnya Broken Strings—buku yang sebenarnya tidak mencantumkan nama saya ‘Roby Tremonti’, cuma pengiringan asumsi—dan momen meninggalnya ‘Timothy’ mahasiswa yang mengalami pembullyan,” tulisnya.

Mengaku Jadi Korban Perundungan Selama 16 Tahun
Lebih jauh, Roby mengklaim bahwa selama 16 tahun terakhir, ia juga menjadi korban perundungan, hinaan, fitnah, dan caci maki—semua tanpa dasar hukum yang jelas.

“Saya speak up sebagai layaknya manusia biasa. 16 tahun ini saya juga mengalami ‘pembullyan, cibiran, hinaan, caci maki, fitnah dll’. Yang dasar bukti selama ini benar-benar tidak ada dan tidak jelas. Laporan polisi juga tidak ada, laporan somasi juga tidak ada,” ungkapnya.

Ia kemudian menyebut nama “Yulianti Wijaya”—yang diyakini merujuk pada Aurelie Moeremans, yang memiliki darah Jawa dan Belgia—dan menyebut bahwa semua tuduhan itu hanyalah “curhatan wanita” yang sedang hamil dan menyebarkan ujaran kebencian tanpa bukti konkret.

Pernyataan ini tentu menuai kontroversi. Banyak netizen mempertanyakan logika Roby: jika memang tidak disebut namanya, mengapa ia merasa begitu terganggu? Apakah sensitivitas terhadap narasi tertentu bisa menjadi indikator bahwa seseorang merasa bersalah?

Foto Marah dan Ancaman “Akan Gue Banting Depan Muka Elu”
Salah satu bagian paling viral dari unggahan Roby adalah foto dirinya yang tengah marah—mengangkat kursi seolah hendak membantingnya. Foto tersebut ternyata diambil dari adegan sinetron tempat ia pernah bermain, namun digunakan sebagai simbol emosi yang memuncak.

Dalam caption-nya, Roby menulis pesan penuh ancaman yang ditujukan kepada seseorang yang ia juluki “Buleli Marimas”—jelas merupakan sindiran terhadap Aurelie Moeremans.

“Gue ngomong pakai nada gue ngomong saat gue jadi orang di gambar di atas. Gue gak sebut merek kalau cara mainnya gitu. Gue gak libatin siapa-siapa—ini urusan Anda dan saya. Jangan sampai buku itu hilang, mau bahasa Inggris, bahasa Indonesia atau bahkan bahasa Prancis sekalipun. Semakin banyak orang baca buku itu, itu akan impact snow ball buat Anda ‘Buleli Marimas’ dan akan gue banting depan muka elu. Waktu berlajan terus. Ngotak lu bul, samsul,” tulisnya dengan diksi kasar dan penuh emosi.

Kalimat terakhir—“Ngotak lu bul, samsul”—menjadi bahan ejekan warganet, yang menilai gaya bahasa Roby terkesan tidak proporsional untuk seorang figur publik.

Respons Warganet: Antara Empati, Kritik, dan Sindiran Pedas
Unggahan lawas Roby tersebut telah dilihat lebih dari 277.700 kali di Twitter, dengan ribuan komentar yang membanjiri unggahan @hwxuxies.

Akun @euphorjic penasaran:

“Kok postingannya udah ilang sih? Sudah dia hapus ya?”

Sementara akun @websitersz berkomentar pedas:

“Dia ngetik apa sih? Seleb tapi ketikannya kayak orang gangguan jiwa.”

Yang paling menusuk datang dari @payrenel, yang menyamakan gaya komunikasi Roby dengan karakter antagonis dalam buku Broken Strings:

“He sounds exactly like she wrote. Pakai kisah orang lain untuk jadi pusat perhatian utama, pemilihan diksinya jelek dan typingannya gak jelas. Seperti yang ada di bonus chapter—yap, dari antara semua yang terjadi di buku itu, yang paling dia kesalkan adalah tentang mentimun.”

Ada pula yang heran mengapa Roby begitu reaktif padahal Aurelie tidak menyebut namanya secara langsung. Seperti dikatakan akun @kindalikemwe:

“Kan di awal Aurelie itu gak nyebut merek, dia kenapa berisik bang sih?”

Antara Hak Privasi dan Tanggung Jawab Publik
Kasus ini kembali memantik perdebatan hangat tentang etika menulis memoir berbasis trauma pribadi. Di satu sisi, korban grooming berhak menyuarakan pengalaman mereka—bahkan secara anonim—untuk memberi peringatan dan dukungan bagi korban lain. Di sisi lain, individu yang merasa difitnah juga berhak membela diri.

Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah reaksi emosional seperti yang ditunjukkan Roby—dengan ancaman, sindiran rasis (“bule”), dan bahasa kasar—merupakan bentuk pembelaan yang sehat, atau justru memperkuat narasi negatif yang ia klaim ingin lawan?

TAG:
Sumber:

Berita Lainnya