Steven Wongso Anaknya Siapa? Inilah Biodata Selebgram yang Viral Usai Dikeluarkan dari Kartu Keluarga Karena Pindah Agama Islam
Steven-Instagram-
Steven Wongso Anaknya Siapa? Inilah Biodata Selebgram yang Viral Usai Dikeluarkan dari Kartu Keluarga Karena Pindah Agama Islam
Dunia media sosial kembali dihebohkan oleh kisah personal seorang konten kreator ternama, Steven Wongso. Nama pria berusia awal 30-an ini mendadak menjadi trending topic setelah ia mengungkapkan bahwa namanya telah dihapus dari kartu keluarga (KK) oleh kedua orang tuanya sendiri. Pengakuan tersebut bukan hanya mengejutkan publik, tetapi juga membuka tabir konflik keluarga yang sarat emosi, tekanan sosial, dan benturan nilai antargenerasi.
Video singkat berdurasi 12 detik yang diunggah oleh akun Twitter @whoopziiy pada 12 Januari 2026 langsung menjadi viral. Dalam rekaman tersebut, Steven terlihat marah dan frustrasi, suaranya meninggi saat mengungkapkan rasa sakit hatinya. “Fak, gara-gara kamu aku dikeluarin dari KK. Sekarang aku sendiri, gara-gara cewek bau!” ujarnya sambil berteriak, menyiratkan kekecewaan mendalam terhadap keputusan orang tuanya.
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Menurut penjelasan Steven dalam video tersebut, penghapusan namanya dari KK bukanlah tindakan spontan, melainkan akibat penolakannya terhadap perjodohan yang diatur oleh sang ibu. Ia mengaku bahwa calon pasangan yang dipilihkan ibunya memang berasal dari latar belakang yang ideal secara sosial—cantik, berasal dari keluarga mapan, dan beragama Buddha seperti keluarganya. Namun, Steven merasa tidak nyaman dengan hubungan tersebut.
“Aku nggak nyaman lah. Oke, aku kasih tahu gambarannya: ceweknya itu cantik, orang Indonesia, dari keluarga mapan—makanya mamaku suka. Agamanya Buddha, tapi dia bau,” ungkapnya jujur, menunjukkan bahwa ketidakcocokan personal menjadi alasan utama penolakannya.
Pernyataan itu memicu berbagai reaksi di jagat maya. Banyak netizen bersimpati atas tekanan yang dialami Steven, sementara yang lain mempertanyakan apakah “bau” layak menjadi alasan menolak perjodohan—atau bahkan menjadi penyebab putusnya ikatan keluarga.
Siapa Steven Wongso Sebenarnya?
Bagi sebagian besar warganet Indonesia, nama Steven Wongso bukanlah sosok asing. Pria yang aktif sebagai konten kreator sejak beberapa tahun terakhir ini telah membangun basis penggemar yang sangat besar di berbagai platform digital.
Di TikTok, akunnya @stevenwongso_ telah diikuti oleh lebih dari 6,3 juta pengguna, menjadikannya salah satu kreator paling berpengaruh di Tanah Air. Di Instagram, ia memiliki 1,3 juta pengikut melalui akun @steven_wongso, sementara kanal YouTube-nya, Steven Wongso, telah mencapai 4,17 juta subscriber—angka yang menunjukkan popularitasnya yang tak bisa diremehkan.
Selain dikenal karena konten hiburan dan gaya hidupnya, Steven juga sempat menjadi sorotan karena hubungan asmara dengan selebriti muda Arafah Rianti. Keduanya dikabarkan menjalin hubungan serius sebelum akhirnya memutuskan untuk berpisah pada Februari 2025. Kini, kisah pribadinya kembali mencuri perhatian, bukan karena konten lucu atau tren terbaru, melainkan karena drama keluarga yang menyentuh isu universal: otonomi individu versus harapan orang tua.
Kartu Keluarga dan Makna Simbolis Penghapusan
Secara administratif, penghapusan nama seseorang dari kartu keluarga memang dimungkinkan jika orang tersebut pindah domisili, menikah, atau atas permintaan sendiri. Namun, dalam konteks budaya Indonesia—di mana keluarga dianggap sebagai fondasi utama identitas sosial—tindakan semacam ini kerap dianggap sebagai bentuk “pengucilan simbolis”.
Bagi banyak orang, kartu keluarga bukan sekadar dokumen resmi, melainkan representasi dari ikatan darah, perlindungan, dan pengakuan sosial. Ketika seseorang “dikeluarkan” dari KK oleh orang tuanya sendiri, hal itu bisa ditafsirkan sebagai penolakan emosional yang sangat menyakitkan.
Psikolog keluarga Dr. Lina Wijaya, M.Psi., menjelaskan bahwa konflik semacam ini sering kali muncul dalam keluarga tradisional yang masih sangat memegang nilai kolektivisme. “Orang tua merasa bahwa keputusan mereka adalah demi kebaikan anak, sementara anak generasi muda ingin otonomi penuh. Ketika komunikasi gagal, maka muncullah eskalasi emosional seperti ini,” ujarnya dalam wawancara singkat via telepon.
Respons Publik dan Dampak Sosial
Unggahan Steven langsung memicu gelombang diskusi di berbagai platform. Tagar #SaveStevenWongso sempat menjadi trending di Twitter, dengan ribuan komentar yang menyuarakan dukungan moral. Banyak warganet muda mengaku pernah mengalami tekanan serupa—dipaksa menerima pasangan pilihan orang tua, dikontrol dalam keputusan hidup, atau bahkan diasingkan secara emosional ketika tidak patuh.
Namun, tak sedikit pula yang mengkritik cara Steven mengekspresikan kemarahannya di depan publik. “Ini masalah keluarga, kenapa dibawa ke medsos? Apalagi menyebut ‘cewek bau’—itu tidak sopan,” tulis salah satu komentar di Instagram.