Benarkah Nikita Willy Pernah Jadi Korban Grooming? Fakta di Balik Hebohnya Spekulasi Usai Pengakuan Aurelie Moeremans
Nikita-Instagram-
Benarkah Nikita Willy Pernah Jadi Korban Grooming? Fakta di Balik Hebohnya Spekulasi Usai Pengakuan Aurelie Moeremans
Nama Nikita Willy kembali mencuat ke permukaan jagat maya—bukan karena karya terbarunya, melainkan akibat gelombang spekulasi yang muncul usai pengakuan blak-blakan Aurelie Moeremans tentang masa lalunya yang kelam. Namun, di tengah riuhnya narasi publik, muncul pertanyaan penting: apakah benar Nikita pernah menjadi korban grooming seperti yang digaungkan sebagian warganet?
Dari Buku ‘Broken Strings’ Hingga Nama Nikita Willy Diseret
Segalanya berawal ketika Aurelie Moeremans merilis buku autobiografi berjudul Broken Strings, yang secara jujur mengupas luka batinnya selama memulai karier di dunia hiburan Tanah Air. Dalam buku tersebut—dan juga dalam sejumlah sesi podcast populer—Aurelie menceritakan pengalaman traumatisnya sebagai korban bullying dan tekanan psikologis di lokasi syuting.
Meski tidak menyebut nama siapa pun secara eksplisit, detail-detail seperti periode waktu, lokasi kerja, serta dinamika hubungan sosial dalam ceritanya memicu analisis mendalam dari netizen. Tak butuh waktu lama, nama Nikita Willy—yang pada masa itu dikenal sebagai salah satu aktris remaja paling bersinar—mulai dikait-kaitkan dengan narasi Aurelie.
Perbincangan pun tak hanya berhenti pada dugaan bullying. Warganet mulai menggali lebih dalam, termasuk menyoroti kehidupan asmara Nikita di masa lalu, khususnya hubungannya dengan pesepak bola Diego Michiels antara tahun 2012 hingga 2014.
Isu Grooming: Antara Sensasi dan Realitas Hukum
Salah satu narasi yang paling viral adalah klaim bahwa Nikita Willy pernah menjadi korban child grooming. Klaim ini muncul lantaran saat hubungannya dengan Diego dimulai, Nikita baru berusia 17 tahun, sedangkan Diego berusia 21 tahun—selisih empat tahun yang oleh sebagian pihak dianggap “berpotensi bermasalah”.
Namun, untuk memahami apakah kasus ini benar-benar termasuk grooming, kita perlu merujuk pada definisi hukum dan psikologisnya.
Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, seseorang yang berusia di bawah 18 tahun masih dikategorikan sebagai anak. Namun, grooming sendiri bukan sekadar soal usia. Istilah ini mengacu pada proses manipulasi sistematis oleh orang dewasa terhadap anak atau remaja dengan tujuan eksploitasi seksual atau psikologis, biasanya melalui pendekatan bertahap yang memanfaatkan ketimpangan kuasa, isolasi sosial, dan kontrol emosional.
Dalam konteks hubungan Nikita dan Diego, fakta menunjukkan hal yang berbeda:
Hubungan mereka terbuka dan diketahui publik, bahkan menjadi sorotan media nasional.
Keluarga Nikita mengetahui dan tidak melarang hubungan tersebut.
Nikita pada masa itu bukan figur biasa—ia sudah menjadi bintang sinetron ternama, memiliki penghasilan mandiri, tim manajemen profesional, dan posisi tawar tinggi di industri hiburan.
Kondisi tersebut sangat kontras dengan pola grooming klasik, di mana korban umumnya mengalami tekanan diam-diam, dipisahkan dari lingkaran sosial, dan tidak memiliki akses ke dukungan sistemik.