Kekayaan Sejati Bukan di Rekening, Tapi di Hati – Refleksi Spiritual di Tengah Gempuran Materialisme yang Kian Menggila, Inilah Khutbah Jumat 9 Januari 2026
masjid-dbenthien/pixabay-
Kekayaan Sejati Bukan di Rekening, Tapi di Hati – Refleksi Spiritual di Tengah Gempuran Materialisme yang Kian Menggila, Inilah Khutbah Jumat 9 Januari 2026
Di tengah gemerlap dunia yang tak henti-hentinya memuja kesuksesan finansial, tampilan mewah, dan pencapaian duniawi, muncul satu pertanyaan filosofis dan spiritual yang kerap terlupakan: “Apa sebenarnya arti kekayaan?”
Bagi sebagian besar masyarakat modern, kekayaan diukur dengan angka di rekening bank, jumlah kendaraan mewah di garasi, luas tanah di kawasan elite, atau bahkan jumlah followers di media sosial. Namun, dalam khutbah Jumat yang akan disampaikan pada 9 Januari 2026, umat Muslim di seluruh Indonesia diajak kembali merenungkan satu kebenaran abadi yang diajarkan oleh Islam: kekayaan sejati bukanlah harta benda, melainkan kekayaan hati.
Artikel ini mengulas ulang naskah khutbah bertajuk “Kekayaan Sejati Adalah Kaya Hati” dengan pendekatan jurnalistik yang kontemporer, dikembangkan menjadi narasi reflektif, emosional, dan relevan dengan realitas kehidupan urban saat ini—tanpa mengurangi esensi ajaran Islam yang universal, mendalam, dan penuh hikmah.
Materialisme Modern dan Krisis Makna Hidup
Dalam masyarakat konsumtif era digital, nilai seseorang kerap ditentukan oleh penampilan luar: pakaian branded, smartphone terbaru, mobil impian, hingga foto liburan eksotis di Maladewa atau Bali yang viral di Instagram. Gaya hidup ini, yang terus diperkuat oleh algoritma media sosial, secara perlahan membentuk standar baru tentang “kesuksesan” dan “kebahagiaan”—standar yang justru menimbulkan kecemasan, iri hati, dan rasa tidak pernah cukup.
Ironisnya, sebagian besar dari kita yang hidup di tengah kemewahan justru merasa hampa. Kita tidur di kasur empuk namun pikiran dipenuhi stres. Kita makan dari piring mahal, tapi hati tak pernah merasa kenyang secara spiritual. Inilah paradoks kehidupan modern: semakin banyak kita miliki, semakin sedikit kita merasa cukup.
Namun, Islam datang bukan untuk mengikuti arus dunia, melainkan untuk mengoreksi arah dan mengingatkan manusia pada jati dirinya. Rasulullah ﷺ pernah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
“Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang sejati adalah kekayaan hati (ghina an-nafs).”
(Muttafaqun ‘Alaih)
Kalimat singkat ini bukan sekadar nasihat, melainkan sebuah revolusi mental yang mengubah cara pandang manusia terhadap kehidupan, kebahagiaan, dan tujuan akhir dari eksistensi kita di dunia.
Qarun: Potret Tragis Kekayaan Tanpa Ketakwaan
Al-Qur’an menyajikan kisah Qarun sebagai simbol paling mencolok tentang bahaya kekayaan yang tidak diimbangi dengan keimanan. Dalam Surah Al-Qashash ayat 76–82, Allah menggambarkan bagaimana Qarun memiliki kekayaan luar biasa hingga “kuncinya saja perlu diangkat oleh sekelompok orang kuat.” Namun, kekayaan itu tidak menjadikannya rendah hati—justru menumbuhkan kesombongan yang luar biasa.
Akibatnya? Allah membenamkannya ke dalam bumi bersama seluruh hartanya sebagai pelajaran abadi bagi umat manusia.
Kisah ini bukan hanya cerita masa lalu. Qarun modern ada di sekitar kita—orang-orang yang hidup dalam kemewahan, tapi jiwanya kosong. Mereka punya segalanya di mata dunia, tetapi tidak memiliki ketenangan batin, rasa syukur, atau ketergantungan kepada Sang Pencipta.
Rasulullah ﷺ menyebut orang seperti ini sebagai “manhum”—seorang yang rakus terhadap dunia. Dalam sebuah riwayat disebutkan:
“Dua golongan orang yang rakus yang tidak pernah merasa kenyang: orang yang rakus terhadap ilmu, ia tidak pernah kenyang darinya; dan orang yang rakus terhadap dunia, ia tidak pernah kenyang darinya.”
(HR. Al-Hakim)
Perbandingan ini bukan berarti menyamakan keduanya, melainkan menunjukkan betapa berbahayanya sifat rakus. Satu menuju cahaya keabadian, yang lain menyelam ke dalam jurang kehampaan.
Teladan Para Nabi: Kaya Jiwa, Cukup dengan Allah
Sebagai antitesis dari Qarun, Islam menghadirkan para Nabi sebagai cerminan sempurna dari kekayaan batin. Ketika Ratu Saba’ mengirim hadiah mewah kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, beliau menjawab dengan tegas namun tenang:
“Apa yang Allah berikan kepadaku (kenabian dan hidayah) lebih baik daripada apa yang Allah berikan kepadamu.”
(QS. An-Naml: 36)
Demikian pula Zulkarnain, ketika ditawari imbalan besar untuk membangun bendungan, ia berkata:
“Apa yang telah Tuhanku anugerahkan kepadaku adalah lebih baik.”
(QS. Al-Kahfi: 95)
Mereka tidak menolak dunia, namun tidak menjadikannya sebagai pusat cinta. Mereka kaya bukan karena memiliki emas, tapi karena merasa cukup dengan Allah—sebuah konsep spiritual yang dikenal dalam tasawuf sebagai “al-ghina ‘an al-khalq”: merasa cukup tanpa bergantung pada makhluk.
Terapi Spiritual di Era Media Sosial: Berhenti Membandingkan, Mulai Bersyukur
Salah satu akar penderitaan spiritual di zaman ini adalah kebiasaan membandingkan diri. Media sosial, yang seharusnya menjadi sarana silaturahmi, justru kerap menjadi sumber stres karena menampilkan “highlight reel” kehidupan orang lain. Kita melihat teman liburan ke Eropa, lalu merasa hidup kita “biasa-biasa saja.” Kita lihat influencer makan di restoran bintang lima, lalu merasa nasi sederhana di rumah “kurang prestis.”
Namun, Rasulullah ﷺ telah memberikan terapi spiritual yang sederhana namun ampuh:
“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam urusan dunia), dan jangan pandang orang yang berada di atasmu, agar engkau tidak meremehkan nikmat Allah.”
(HR. Muslim)
Ini bukan berarti bersikap apatis terhadap ketidakadilan sosial, melainkan melatih perspektif syukur—sebuah senjata ampuh melawan kecemasan dan rasa iri.
Bayangkan:
Saat Anda bangun pagi dalam keadaan sehat, ingatlah jutaan orang yang terbaring sakit.
Saat Anda tidur nyenyak di malam hari, ingatlah saudara-saudara di Gaza, Sudan, atau Suriah yang hidup dalam ketakutan.
Saat Anda menikmati nasi hangat di meja makan, ingatlah anak-anak yang rela berjalan puluhan kilometer hanya untuk sepotong roti.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang di pagi hari merasa aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan seluruh isinya telah dikumpulkan untuknya.”
Bukankah ini definisi kekayaan yang paling adil, universal, dan membebaskan?
3 Langkah Nyata untuk Meraih Kekayaan Hati
Khutbah Jumat 9 Januari 2026 tidak hanya mengajak jamaah untuk merenung, tetapi juga memberikan langkah praktis menuju kekayaan jiwa di tengah arus materialisme:
Berdoa Meminta “Al-Ghina”
Bacalah doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ:
“Allahumma innâ nas’alukal-hudâ wat-tuqâ wal-‘afâfa wal-ghinâ.”
(Ya Allah, kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kekayaan jiwa.)
Menjaga ‘Iffah – Harga Diri Spiritual
Jangan biarkan harga diri Anda ditentukan oleh pujian orang, jumlah like, atau status sosial. Jadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran.
Latih Mata untuk Melihat ke Bawah
Jadikan rasa syukur sebagai kebiasaan harian. Buat jurnal nikmat: setiap malam, tulis tiga hal yang Anda syukuri hari ini—sekecil apa pun bentuknya.
Penutup: Dunia Fana, Jiwa Abadi
Di penghujung khutbah, khatib mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah apa yang kita miliki, tapi siapa diri kita di hadapan Allah. Di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk “lebih banyak,” Islam mengajak kita untuk “lebih cukup.”
Baca juga: LINK SSCASN Rekrutmen CPNS 2026 Fokus Regenerasi ASN, Lulusan SMA hingga S1 Berpeluang